Qimi: Dengan Diagnosis Dini Mempercepat Penyembuhan Disfungsi Ereksi Psikogenik ( Kaltim Post ,2008 )
Kasus-kasus disfungsi ereksi (DE) semakin banyak dijumpai. Hal ini antara lain disebabkan semakin terbukanya masyarakat dalam menghadapi masalah seksual. Diperkirakan 50 persen dari kasus ganggguan fungsi seksual pria adalah kasus disfungsi ereksi (DE).
Menurut dokter Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, Fajar Rudy Qimindra, disfungsi ereksi ( DE ) didefinisikan sebagai ketidakmampuan mempertahankan atau mencapai ketegangan alat kelamin yang cukup untuk melakukan hubungan seksual.
Oleh karena penyakit Disfungsi ereksi ( DE ) disebabkan 3 faktor, yaitu faktor organik, faktor psikologi, dan faktor campuran, maka tidak boleh seseorang melakukan pengobatan sendiri karena dengan mencari obat sendiri dan alat bantu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan akan menimbulkan masalah baru.
Qimi, sapaan dr Fajar Rudy Qimindra menjelaskan, untuk menegakkan diagnosis disfungsi ereksi psikogenik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya anamnesis seksual, yaitu dalam wawancara ini seorang klinisi atau dokter akan menanyakan faktor perjalanan seksual termasuk faktor psikogenik yang bisa menyebabkan DE. “Faktor Psikogenik ini antara lain memori traumatic atau perasaan trauma saat menyaksikan proses persalinan ,perasaan berdosa atau bersalah kepada pasangan, trauma masa lalu dan segala hal yang memengaruhi pikiran sehingga membuat urusan seksual menjadi terganggu,” jelasnya.
Kemudian pemeriksaan fisik secara umum untuk menyingkirkan faktor-faktor organik atau kelainan fisik, pemeriksaan khusus untuk menegakkan diagnosis disfungsi ereksi (DE), khususnya untuk membedakan disfungsi ereksi (DE) psikogenik dan organik. Seperti yang dikatakan Qimi, pemeriksaan tersebut seperti sleep erection monitoring.”Pada laki-laki normal selama tidur akan terjadi ereksi. Saat bangun pagi masih ada sisa ereksi yang terjadi pada malam hari. Inilah yang dimonitor,” ujarnya.
Beberapa pemeriksaan lain seperti tekanan darah alat kelamin untuk mengetahui tekanan aliran darah dan visual sex stimulation.
Di samping itu, pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk menunjang tegaknya diagnosis penyakit atau kelainan lainnya. Untuk pengobatan, harus diperhatikan tahapan-tahapan mana yang terganggu. Seperti diketahui aktivitas seksual dimulai dari adanya gairah atau libido. Tahap ini diikuti dengan adanya ereksi bila ada rangsang an dan tahap ketiga adalah ejakulasi yang biasanya pada laki-laki bersamaan dengan tahap keempat, yaitu orgasme yang sifatnya sangat subjektif.
“Disfungsi ereksi psikogenik biasanya banyak diderita pada usia muda. Dengan bertambahnya usia, faktor fisik yang mulai berperan. Jika DE dialami oleh pria dengan usia sekitar 20-30 tahun memungkinkan dapat disembuhkan,” tuturnya. (*/fir)































Weh… bahaya neh kalo ga bisa ereksi (burungku ga bisa bernyanyi lagi)