Jangan Sembarang Pakai Antibiotika
- 8 Comment
MEMANG penyembuhan penyakit dengan antibiotika sering digunakan masyarakat. Ini disebabkan masyarakat begitu mudah mendapatkan antibiotika di pasaran. Saat terserang flu atau peradangan, orang dengan mudah mengobati dirinya sendiri dengan membeli antibiotika.
Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain. Banyak antibiotika saat ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh.
Menurut dr Fajar Rudy Qimindra dari Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB), antibiotika yang ditemukan pada 1928 oleh Alexander Fleming ini, sekarang menghadapi masalah baru berupa kekebalan (resistansi). Karena penggunaannya yang bebas dan tidak sesuai dengan indikasi, sehingga efek dari resistansi ini adalah dikhawatirkan obat tersebut sudah tidak lagi efektif saat terjadi infeksi yang membutuhkan antibiotika.
Dikatakannya, selain bahaya kekebalan, efek lain yang bisa terjadi adalah timbulnya reaksi alergi. Alergi adakah mekanisme pertahanan tubuh yang terlalu sensitif. Ia bersifat individual (perseorangan) dan dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti debu, udang, telur, maupun obat-obatan sendiri. Alergi obat ini tidak tergantung pada dosisnya. Misalnya masyarakat menganggap yang mengandung 500 mg termasuk dosis tinggi dan dapat menimbulkan alergi dibanding 200 mg. Padahal setiap jenis antibiotika mempunyai dosis tersendiri yang spesifik.
Reaksi alergi yag timbul bisa bersifat ringan ataupun berat yang sampai mengancam jiwa. Yang ringan seperti gatal, mual, muntah, pusing dan sebagainya. Sedang reaksi yang berat disebut reaksi anafilaksis. Reaksi anafilaksis ini adalah timbulnya kondisi syok pada pasien, yaitu dalam hitungan detik pasien bisa langsung tidak sadar, tetapi begitu mendapat suntikan anti-nya ia akan sadar kembali.
Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang baik antara pasien dan dokter.Seorang dokter akan menanyakan riwayat adanya alergi obat atau tidak,dan pasien wajib mencatat dan mengingat ada riwayat alergi apa saja.
Pencegahan reaksi alergi yang lain, biasanya akan dilakukan tes kulit (skin test) untuk antibiotika yang berbentuk suntikan/injeksi. Cara sejumlah kecil dosis obat diencerkan kemudian disuntikkan di bawah kulit.
“Jika setelah dilakukan skin test si pasien mengidap alergi, maka timbul akan bentol-bentol di sekitar tempat suntikan. Jika sudah demikian maka pemberian antibiotika tersebut tidak akan diberikan. Dengan kata lain, jika antibiotika tersebut tidak cocok pada tubuh pasien, maka si pasien harus mendapatkan obat lain sebagai penggantinya,” ujar Qimi.
Dikatakan lebih lanjut, efek samping antibiotika dari penggunaan jangka panjang yang dipikirkan adalah pada organ tubuh yang memecah/mengeluarkan racunnya, yaitu ginjal. Perlu kewaspadaan apabila pada pasien tersebut sudah ada gejala kerusakan ginjal maka harus dipilih antibiotika yang sesuai.
Adapun jangka waktu penggunaan antibiotika ini sangat bervariasi, tergantung pada berat ringannya penyakit yang diderita.
“Untuk infeksi kuman yang ringan, penggunaan selama lima hari saja biasanya sudah cukup,” kata pria yang sehari-hari tugas di rumah sakit di kawasan Jl Jend Sudirman Balikpapan Selatan ini.
Sebenarnya, ungkap Qimi, penggunaan antibiotika secara benar dan rasional memang harus diberikan. Rasional di sini maksudnya, adalah harus sesuai dengan indikasi penyakitnya, sesuai dosisnya, sesuai cara pemberiannya, dan tetap memperhatikan efek sampingnya. Sehingga diharapkan masyarakat menjadi rasional dan tidak berlebihan dalam menggunakan antibiotika sesuai apa yang dikampanyekan oleh Badan kesehatan dunia,WHO.
Beberapa hal yang bisa dianjurkan dalam mengonsumsi antibiotika, antara lain sebaiknya jangan sembarangan minum antibiotika yang dibeli sendiri di apotek atau toko obat; untuk pertolongan awal gejala demam, batuk, flu boleh saja minum obat penangkalnya, tetapi jangan mengandalkan antibiotik; selalu berkonsultasi dengan dokter untuk setiap penggunaan antibiotika, dan tanyakan ke dokter tentang cara minum, lama minum dan lain-lain sehingga ada kejelasan.
“Bagaimana pun antibiotika adalah salah satu obat yang dapat digolongkan sebagai dalam pengawasan dokter. Sehingga resistensi yang terjadi karena penggunaan yang tidak terkontrol benar-benar bisa diminimalkan,” tegas Qimi.(fir)
NB : buat Om Zalukhu cepat sembuh ya…kalau sehat kan repiewnya bisa diteruskan.
dikutip dari: Kaltimpost.net hari Rabu, 23 Juli 2008
8 Comments on this post
Trackbacks
-
Zalukhu said:
Ijin save as ya pak dokter hehe
July 23rd, 2008 at 11:13 pm -
xero said:
betul pak, saya pernah tau sedikit soal jangan sembarangan minum antibiotika meski ga secanggih pak dokter hehehehe. salam
July 24th, 2008 at 6:56 pm -
enggink said:
wah, langganan saya klo sakit gigi pasti antibiotik, klo cuma obat penghilang rasa sakitnya aja tanpa antibiotik pasti ga mempan. gawat nih pak. trims pak saya jadi tau,,,,
July 24th, 2008 at 11:05 pm -
Ronggo said:
pak dokter saya lagi sakitt niiih
lagi sakiiit cintaJuly 24th, 2008 at 11:31 pm -
sapimoto said:
Saya sudah sekitar 14 tahun berusaha untuk tidak mengkonsumsi obat-obatan, karena takut dengan efek2 seperti ini…
July 25th, 2008 at 12:41 pm -
duan said:
wah infonya bgs banget makasih ya dok
July 25th, 2008 at 1:25 pm -
tipis said:
wah kl aku dikit² minum obat. pusing dikit parasetamol. demam dikit biogesic. bahaya gk ya dok???
July 25th, 2008 at 5:45 pm -
foto kartun said:
Jadi kesimpulannya, antibiotik apakah boleh sering dikonsumsi, pak dokter?
Setiap kali sakit radang tenggorokan dan periksa ke seorang dokter, dokter tsb dapat dipastikan akan memberikan resep antibiotika (bahkan meskipun sakitnya sering — sebulan sekali atau dua bulan sekali). Pernah saya tanyakan masalah keamanannya dan resiko resistensi, dokternya mengatakan tidak apa2 dikonsumsi karena memang diperlukan.
Jadi bingung.
July 29th, 2008 at 6:07 pm






